Devaluating Character of Globalization

Satu semester mengikuti kelas globalisasi, saya belajar bahwa globalisasi merupakan sesuatu yang mangandung banyak perdebatan. Seseorang dengan pengalaman berbeda terkait globalisasi akan memiliki pandangan dan pengertian yang berbeda mengenai globalisasi itu sendiri. Tepat seperti yang digambarkan dalam cerita lima orang buta dan seekor gajah. Orang yang memegang belalai gajah akan mengatakan bahwa gajah seperti ular, sementara orang yang memegang badannya akan mengatakan gajah seperti segumpalan besar daging.

Terkait hal diatas, jika saya diminta untuk menggambarkan globalisasi, saya akan mengatakan bahwa globalisasi itu bersifat mende-valuasi sesuatu. Itu yang tidak saya suka. Kenyamanan-kenyamanan yang ditawarkan oleh globalisasi membuat nilai dari sesuatu itu berkurang atau hilang. Contoh yang sudah biasa kita lihat adalah adanya mesin ATM. Kenyamanan dan kemudahan yang diberikan oleh mesin itu untuk menarik uang membuat kita kurang menghargai uang atau usaha yang telah kita lakukan untuk mendapatkan uang tersebut. Alhasil kita dengan enaknya menarik uang kita dan baru akan menyesal kalo uang kita sudah habis.

Satu contoh lain karakter de-valuating globalisasi yang mengganggu saya akhir-akhir ini adalah soal remove meremove teman di facebook. Facebook secara simbolis merupakan miniatur atau representasi pergaualan kita di dunia maya. Dengan facebook, kita bisa berkenalan dengan teman-teman lain dari berbagai negara di penjuru dunia. Orang-orang yang sibuk bekerja di kantor memanfaatkan fasilitas ini untuk tetap bisa bersosialisasi atau berkomunikasi dengan rekan-rekannya yang tidak bisa lagi dia temui di hari biasa. Meskipun demikian, facebook juga memberi kita kemudahan untuk meremove teman jika kita sedang marah, kesal, atau benci dengan seseorang. Dan menurut saya hal ini sangat menganggu sekali. Dengan adanya kemudahan itu, value pertemanan yang selama ini kita pegang jadi berkurang. Dahulu kita cenderung untuk membicarakan masalah kita jika sedang kesal dengan teman, tetapi sekarang, kita memiliki alternatif untuk ”menghilangkan” masalah itu dengan mudah. Saya benar-benar shocked mendengar salah sorang teman meremove teman dekatnya hanya karena masalah konyol dan mereka benar-benar tidak berbicara setelah itu. Masih banyak kasus lainnya yang membuat saya, ”halow??jangan sampai lah kita tertipu oleh globalisasi. Jangan sampai globalisasi mendevaluate nilai-nilai yang selama ini sudah kita pegang.”

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Presentasi militer dan politik : kelompok China

click here

Leave a Comment

Filed under Mata Kuliah HI lainnya

makalah militer dan politik : Kelompok China

click here

2 Comments

Filed under Mata Kuliah HI lainnya

Pemberitahuan kepada anggota kelompok Militer dan Politik China

Teman-temanku tercinta, sudah baca kan proposal makalah kita dibawah? Itu cuma gambaran kasarnya saja. Soalnya bahan pdfku menghilang T_T

Nah, berhubung tugas harus sudah dikumpulkan pada hari kamis, 30 April 2009, ayo kita selesaikan bagian kita dengan baik.

Vinka dan Nisa, tolong baca bukunya Finner bab 4 dan 5 (the disposition to intervene: motives and mood), trus analisa rumusan masalah kita dari poin-poin yang disampaikan Finner.

Timur sama Tomo, sama kayak vinka dan Nisa, tapi dilihat dari sisi oportunity (Finner bab 6).

Puput sama Risti, tolong jelasin struktur organisasi militer terutama dalam hal kontrol dimana PKC benar-benar berkuasa atas militer (kalau bisa jangan pakai struktur berdasarkan konstitusi 1975, tapi sebelum itu (1949-1966), agar sesuai dengan kasus kita).

Yohanes sama Ashar bikin ppt kita ya..kalau bisa sih yang bagus, dengan gambar-gambar militer China gitu;b

Afiq bantu bela aja ngejelasin gambaran keterlibatan militer ketika Revolusi Kebudayaan berlangsung.

Jelas kan?maaf ya harus bela yang bagi, soalnya kemarin pada nggak kumpul sementara waktu kita mepet.

Untuk semua aja, pembagian diatas nggak ”saklek”. Dalam artian, kalau kalian punya bahan yang bisa membantu teman-teman lain, dikasihin aja. Trus jangan lupa pakai dan masukkin referensi BUKU yang udah kalian resume biar kita nggak lack referensi buku (tau sendiri kan dosen kita). Kalian boleh dan disaranin juga pakai referensi lain dan jangan lupa cantumin footnote ya. Dan yang paling penting, setiap subkelompok benar-benar harus menulis bagian mereka dalam bentuk ”JADI” (word dan ppt) trus diserahin ke bela (untuk word) dan ke Yohanes dan Ashar (untuk ppt) biar langsung dicompile. Kita kumpul lagi hari selasa jam 11.30 di lobi ya. WAJIB DATANG dan wajib membawa bagian yang dikerjain.

Buat temen-temen yang pingin tahu jalannya revolusi kebudayaan dan keterlibatan militer, akan ku upload senin siang. Soalnya bukunya udah q kembaliin gara-gara telat sebulan.hehe.

Semangat ya! Kalau ada yang masih bingung atau mau nanya sesuatu kontak bela aja. Dan 1 lagi, bela minta nama dan NIM LENGKAP ya.

Grc.

5 Comments

Filed under Mata Kuliah HI lainnya

PROPOSAL MAKALAH MILITER DAN POLITIK

HUBUNGAN MILITER DAN PARTAI KOMUNIS CHINA

PADA ERA MAO ZEDONG

Studi Kasus: Keterlibatan Militer dalam Revolusi Kebudayaan

A. Latar Belakang

Hubungan militer dan sipil merupakan suatu permasalahan klasik di beberapa negara, terutama di negara yang rapuh dimana kondisi sosial, ekonomi dan politiknya cenderung tidak stabil. Dalam keadaan pemerintahan sipil tidak lagi mampu mengelola permasalahan negaranya, militer cenderung untuk masuk dalam politik demi menstabilkan keadaan. Hal ini dapat kita lihat di Myanmar ketika Jendral Ne Win menyingkirkan pemerintahan yang berkuasa dan membentuk pemerintahan militer hingga saat ini. Kondisi yang sama juga terjadi di Argentina dimana militer menjatuhkan Presiden Frondizi dan membentuk pemerintahan sementara di bawah kekuasaannya. Contoh lain yang lebih kontemporer adalah apa yang kita saksikan baru-baru ini di Madagaskar.

Republik Rakyat China, disisi lain, merupakan suatu negara dengan kondisi yang cenderung stabil. Bahkan dapat dikatakan militer hampir tidak pernah melakukan kudeta terhadap pemerintahan sipil. Namun hal ini bukan berarti militer tidak pernah terjun dalam dunia politik. Salah satu masa dimana militer terjun dan bahkan terlibat aktif dalam politik adalah ketika terjadi Revolusi Kebudayaan di era mao Zedong. Saat itu Mao, dengan pemerintahannya yang semakin melemah, memutuskan untuk memasukkan militer untuk mendukung pasukan merahnya dalam memberantas para penentang pemerintah. Dalam kekacauan tersebut, militer akhirnya berhasil mengambil alih hampir semua pemerintahan di daerah, menduduki 50% kursi di politburo dan bahkan mengurusi masalah sosial dan ekonomi masyarakat. Meskipun demikian, hal ini tidak mendorong militer untuk mengambil alih pemerintahan sipil secara keseluruhan yang saat itu melemah akibat tentangan dari berbagai pihak. Pertanyaan ini lah yang akan kami coba analisa dalam makalah ini.

B. Rumusan Masalah

Mengapa militer tidak mengambil kesempatan untuk mengambil alih pemerintahan disaat Revolusi Kebudayaan berlangsung?

C. Hipotesa

Keteguhan militer China untuk tidak mengambil kesempatan mengambil alih pemerintahan disaat Revolusi Kebudayaan berlangsung disebabkan oleh struktur organisasi militer itu sendiri dimana setiap level kedudukan militer diawasi oleh komite partai sehingga militer tidak leluasa melakukan kudeta atau semacamnya.

D. Landasan Teori

Untuk mempermudah analisa kami menggunakan dua teori. Pertama adalah teori Finner yang melihat bahwa kudeta militer disebabkan oleh adanya dua faktor yaitu motif (agen) dan peluang (struktur). Kedua adalah teori yang menyatakan bahwa negara dengan sistem komunis jarang mengalami kudeta militer karena penguasaan partai terhadap militer.

Leave a Comment

Filed under Mata Kuliah HI lainnya

Russian Energy Policy during Putin’s Tenure

Book Title : Russian Energy Policy during President Putin’s Tenure: Trends and Strategies

Author : Danila Bochkarev

Publisher : GMB Publishing Ltd.

Publishing year : 2006

Kondisi politik internasional pasca perang dingin membuat Rusia tidak bisa lagi menggunakan pendekatan hard powernya dalam berhubungan dengan negara lain. Hal ini disebabkan dengan majunya perkembangan militer AS diatas Rusia, kesulitan finansial yang dialami Kremlin sendiri dan adanya proliferasi senjata pemusnah massal yang membuat senjata nuklir Rusia dapat dikatakan tidak relevan lagi.

Dengan tujuan utama politik luar negeri Rusia untuk memodernisasi ekonomi, memiliki kemampuan saing global dan rekonstruksi Rusia sebagai kekuatan besar modern berbasis ekonomi, Putin kemudian mengalihkan pendekatannya dengan soft power dengan energi sebagai senjata diplomasi utama dengan negara lain. Perubahan ini bukan tidak masuk akal, mengingat Rusia saat ini merupakan salah satu penghasil energi terbesar di dunia. Rusia memproduksi 11,9% minyak dunia dan memiliki cadangan sekitar 6,1% cadangan dunia (72,3 milyar barel) dengan jumlah yang diperkirakan meningkat hingga 180 milyar barel (kedua dibawah Arab Saudi). Sementara itu, dalam hal gas, Rusia adalah produsen dan pemilik cadangan gas terbesar di dunia. Rusia menghasilkan 25% gas dunia dan memiliki cadangan 26,7% cadangan gas dunia. Tidak sumber daya energi yang melimpah, Rusia juga memiliki keuntungan geografi yang sangat strategis. Rusia berada diantara Eropa, Jepang dan China yang tidak lain merupakan pasaran energi terbesar di dunia. Rusia juga merupakan alternatif yang paling baik bagi Amerika Serikat untuk mengatasi kekhawatirannya mengenai ketidakstabilan kawasan Timur Tengah sebagai pemasok utamanya.

Keuntungan-keuntungan ini lah yang akhirnya disadari Rusia untuk dimanfaatkan menjadi senjata politik demi mencapai tujuan politik luar negerinya. Rusia dibawah Putin kemudian menerapkan strategi komprehensif untuk mendukung politik energinya tersebut. Beberapa strategi utama yang saling menopang ini adalah monopoli kepemilikan energi dalam negeri Rusia. Gazprom, sebagai perusahaan energi negara, menguasai dua per tiga kekayaan gas dan memproduksi 90% gas Rusia. Selain itu, Putin memberlakukan berbagai perubahan peraturan perundang-undangan yang mendukung monopoli ini. Kedua, adalah penguasaan atas supply energi dari Asia Tengah yang tidak memungkinkan negara-negara lain untuk membeli energi langsung dari Asia Tengah. Ketiga adalah penjagaan pengaruh negara-negara transit (CIS) di bawah Rusia. Putin tidak segan untuk membantu menurunkan para pemimpin terpilih yang berpotensi menentang Rusia. Keempat dan paling penting adalah monopoli saluran energi. Dengan cara ini Rusia tidak hanya menjadi produsen terbesar tetapi benar-benar menjadi penguasa energi dunia. Untuk bisa memasuki pasaran Asia, Rusia mengembangkan jalur Timur yang dikuasainya bersama dengan Jepang. Join venture ini, juga dengan negara-negara lain diharapkan dapat merembet ke kerjasama lain pada tingkat negara.

Dengan strategi yang dapat dikatakan ”mengunci” ini, Rusia saat ini semakin dekat dengan tujuannya. Bahkan dalam hubungannya dengan Uni Eropa, Rusia mampu memiliki kedudukan yang superior.

Afterall, buku Danila Bochkarev ini bagus bagi para peminat studi Rusia untuk mejelaskan politik Energi Rusia secara general. Mungkin satu hal yang kurang dibahas oleh penulis dalam strategi energi Rusia adalah strategi bilateral Rusia. Bahwa Rusia cenderung melakukan kerjasama energi dengan negara lain secara bilateral. Strategi ini terutama diterapkan terhadap Uni Eropa dan berhasil membuat CFSP gagal diimplementasikan terhadap Rusia.

5 Comments

Filed under book review

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

1 Comment

Filed under Uncategorized